Welcome

Selamat Datang Di Pusat Download Kumpulan Karya Tulis Ilmiah, Skripsi dan Tesis Kesehatan Lengkap Kuesioner dan Instrumen Penelitian Gratis

Apa Sih Kepemimpinan Itu !


1.    Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan sebagai suatu proses dimana pimpinan dibayangkan akan memberikan perintah, pengaruh, bimbingan atau mempengaruhi pekerjaaan orang lain memiliki dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan kepemimpinan pekerjaan yang telah dirumuskan dapat dicapai. Beberapa ahli
mengidentifikasikan tentang kepemimpinan pekerjaaan yang telah dirumuskan dapat dicapai. Beberapa ahli mengidentifikasikan tentang kepemimpinan antara lain: (Azwar, 1996)
a.    Ordway Tead, kepemimpinan adalah perpaduan berbagai prilaku yang dimiliki seseorang sehingga orang tersebut memiliki kemampuan untuk mendorong orang lain bersedia dan dapat menyelesaikan tugas-tugas tertentu yang dipercaya kepadanya.
b.    George R Terry, Kepemimpinan adalah hubungan yang tercipta dari adanya pengaruh yang dimiliki oleh seseorang terhadap orang-orang lain sehingga orang lain tersebut secara suka rela mau dan bersedia bekerja untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
c.    Stogdill, kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktivitas seseorang atau sekelompok orang yang mau berbuat dan mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan.
d.    Paul Hersey, Ken Blancharcd, kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktivitas seseorang atau kelompok orang yang mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan dalam situasi tertentu.
Dari keempat batasan tersebut maka jelaskan bahwa kepemimpinan akan muncul apabila kemampuan untuk mendorong orang lain guna berfikir dan ataupun berbuat sesuai dengan yang diinginkannya.
2.    Tipe Kepemimpinan
Tipe kepemimpinan adalah pola perilaku yang ditampilkan oleh seorang pemimpin, pada saat pemimpin itu mencoba untuk mempengaruhi orang lain sepanjang diamati oleh orang lain. Dengan kata lain, apabila seseorang pemimpin presepsinya terhadap prilaku kepemimpinannya baik dan bermanfaat, tidak berarti dan berfaedah pula menurut presepsi orang lain. (Wahjosumijo, 2000).
Sutarto, (1991) tergantung dari perilaku yang dihadapi dalam suatu organisasi dan atau yang dimiliki oleh kepemimpinan maka tipe kepemimpinan yang diperlukan oleh seseorang pemimpin dapat dibedakan antara lain. Ronald Lippitt dan Ralph K. Withe (1960) berpendapat ada 3 gaya kepemimpinan, yaitu:
a.    Otoriter atau otokratis (autokratis)
Kepemimpian gaya otoriter, otokratis atau diktator adalah kemampuan mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan dengan cara segala kegiatan yang dilakukan diputuskan oleh pimpinan semata-mata. Kepemimpinan gaya otoriter antara lain berciri :
1)    Wewenang mutlak terpusat pada pimpinan
2)    Keputusan selalu dibuat oleh pimpinan
3)    Kebijaksanaan selalu dibuat oleh pimpinan
4)    Komunikasi berlangsung satu arah dari pimpinan kepada bawahan
5)    Pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan atau  kegiatan para bawahannya dilakukan secara ketat
6)    Prakarsa harus selalu datang dari pimpinan
7)    Tiada kesempatan bagi bawahan untuk memberikan saran, pertimbangan atau pendapat
8)    Tugas-tugas bagi bawahan diberikan secara instruktif
9)    Lebih banyak kritik dari pada pujian
10) Pimpinan menuntut prestasi sempurna dari bawahan tanpa syarat
11) Pimpinan menuntut kesetiaan mutlak tanpa syarat
12) Cenderung adanya paksaan, ancaman dan ancaman hukuman
13) Kasar bertindak
14) Kaku dalam bertindak
15) Tanggung jawab keberhasilan organisasi hanya dipikul oleh  pimpinan
Penerapan gaya kepemimpinan otoriter dapat mendatangkan keuntungan antara lain berupa kecepatan serta ketegasan dalam pembuatan keputusan dan kecepatan serta ketegasan untuk sementara mungkin dan bertindak sehingga untuk sementara mungkin produktivitas dapat naik. Tetapi penerapan gaya otoriter dapat menimbulkan kerugian antara lain: suasana kaku, tegang, mencekam, menakutkan, sehingga dapat berakibat lanjut timbulnya ketidakpuasan. Dalam hal ini penerapan gaya kepemimpinan otoriter mengakibatkan rusaknya sikap dan moral, meniadakan inisiatif, menimbulkan permusuhan, agresifitas, keluhan, absent, pindah dan ketidakpuasan.
b.    Demokrasi (democratic)
Kepemimpinan gaya demokratis adalah kemampuan mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan cara berbagai kegiatan yang akan dilakukan ditentukan bersama antara pimpinan dan bawahan. Kepemimpinan gaya demokratis antara lain seperti:
1)    Wewenang pimpinan tidak mutlak
2)    Pimpinan bersedia melimpahkan sebagian wewenang kepada bawahan
3)    Keputusan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan
4)    Kebijaksanaan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan
5)    Komunikasi berlangsung timbal balik, baik terjadi antara pimpinan dan bawahan
6)    Pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan atau kegiatan para bawahan dilakukan secara wajar
7)    Prakarsa dapat datang dari pimpinan maupun bawahan.
8)    Banyak kesempatan bagi bawahan untuk menyampaikan sara, pertimbangan atau pendapat.
9)    Tugas-tugas kepada bawahan diberikan lebih bersifat pemintaan dari pada intstruktif.
10) Pujian dan kritik yang seimbang
11) Pimpinan mendorong prestasi sempurna para bawahan dalam batas kemampuan masing-masing.
12) Pimpinan meminta kesetiaan para bawahan secara wajar.
13) Pimpinan memperhatikan perasaan dalam bersikap dan bertindak.
14) Terdapat suasana saling percaya, saling hormat menghormati dan saling menghargai.
15) Tanggung jawab keberhasilan organisasi dipikul bersama pimpinan dan bawahan.
Herbert G Hicks Ray C Gullet (1975) menyatakan bahwa dengan kepemimpinan gaya demokratis kekurangan mungkin tidak setinggi pada gaya otoriter, namun kualitas lebih baik dan masalah manusia sedikit terjadi karena adanya interaksi antara pimpinan dan bawahan, saling mengeluarkan pendapat, semua orang dianggap sama pentingnya dalam menyumbangkan ide dalam pembuatan keputusan. Penerapan kepemimpinan gaya demokratis dapat mendatangkan keuntungan antara lain berupa keputusan serta tindakan yang lebih objektif, tumbuhnya rasa ikut memiliki serta terbinanya moral yang tinggi. Sedangkan kelemahan gaya ini antara lain keputusan serta tindakan kadang-kadang lamban, rasa tanggung jawab kurang, keputusan yang dibuat bukan keputusan yang baik.
c.    Kebebasan (Laissez-faire)
Kepemimpinan gaya kebebasan atau liberal adalah kemampuan mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan cara berbagai kegiatan yang telah ditetapkan dan dilakukan lebih banyak diserahkan pada bawahan. Kepemimpinan liberal antara lain berdiri:
1)    Pimpinan melimpahkan wewenang sepenuhnya kepada bawahan
2)    Keputusan lebih banyak oleh para bawahan
3)    Kebijaksanaan lebih banyak dibuat oleh para bawahan
4)    Pimpinan hanya berkomunikasi apabila diperlukan oleh bawahan
5)    Hampir tidak ada pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan atau kegiatan bawahan
6)    Prakarsa selalu datang dari bawahan
7)    Hampir tidak ada pengarahan dari pimpinan
8)    Peranan pimpinan sangat sedikit dalam kegiatan kelompok
9)    Kepentingan pribadi lebih penting daripada kepentingan kelompok
10) Tanggung jawab kelompok dipikul oleh perorangan
Penerapan kepemimpinan gaya liberal dapat mendatangkan keuntungan antara lain anggota atau bawahan akan mengembangkan kemampuan dirinya. Akan tetapi kepemimpinan jenis ini dapat membawa kerugian organisasi antara lain berupa kekacauan karena tiap antara tiap pejabat bekerja menurut selera masing-masing.
3.    Sifat Kepemimpinan
Para ahli berpendapat bahwa type kepemimpinan yang baik adalah mengintegrasikan secara maksimal antara produktifitas dan kepuasan, pertumbuhan dan perkembangan manusia dalam semua situasi. Tetapi penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa sesungguhnya tidak ada type kepemimpinan yang baik. Yang penting adalah keberhasilan seseorang pemimpin adalah apabila pemimpin dapat menyesuaikan tipe kepemimpinannya dengan situasi yang dihadapi, sejauh mana seseorang pemimpin memperhatikan situasi akan tergantung dengan apa yang disebut “tingkat kematangan” yang ditunjukkan oleh bawahan terhadap tugas-tugas tertentu, fungsi dan tujuan organisasi yang akan dicapai (Wahjosumijo, 2000).
4.    Kepemimpinan dalam Islam
Islam mengajarkan kepada kaumnya tentang perilaku yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Sehingga dalam pelaksanaan berbagai aktivitas kesehariannya harus dilandasi dengan ikhlas beribadah yang ditujukan kepada-Nya. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang melaksanakan kegiatan kepemimpinannya dengan tetap memperhatikan asas-asas keadilan dan memiliki ilmu pengetahuan sehingga dapat mengayomi seluruh bawahannya seperti yang telah di firmankan Allah SWT dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 247 
Artinya      :    Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu." Mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa." Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.

ARTIKEL TERKAIT:

0 komentar:

Postingan Populer